Wisata Sejarah di Jakarta: Museum Jenderal Besar DR. A.H. Nasution


Tak jauh dari Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Jenderal TNI Ahmad Yani juga terdapat museum lain yang berhubungan dengan peristiwa G30S/PKI yaitu Museum Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution. Jaraknya tak sampai 10 menit jika menggunakan sepeda motor dari rumah Pak Yani menuju ke rumah Pak Nas. Museum Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution terletak di Jalan Teuku Umar No. 40 Menteng, Jakarta Pusat. Dibandingkan dengan Rumah Pak Yani yang benar-benar berada di tengah kompleks perumahan, Rumah Pak Nas lebih mudah ditemukan karena posisinya berada di sebelah kiri jalan besar Teuku Umar.

Patung Torso Jenderal Besar A.H Nasution

Saat tiba dirumah Pak Nas, gue bersama empat orang pengunjung lain mendapatkan penjelasan dari Kapten (CAJ) Suroso dari Disjarhad TNI AD. Memasuki pintu depan rumah Pak Nas pengunjungi langsung di sambut oleh  patung torso Jenderal Besar A.H Nasution. Menurut saya pribadi yang membuat Museum Jenderal A.H Nasution ini menarik karena diorama yang menggambarkan peristiwa yang mirip dengan kejadian sesungguhnya.

Dari penjelasan Kapten Suroso setidaknya ada 5 tempat di rumah ini yang menjadi saksi bisu peristiwa 1 Oktober 1965. Tempat pertama adalah ruang kerja Pak Nas.

Meja kerja Pak Nas

Disinilah Pak Nas sering menghabiskan waktunya untuk bekerja dan juga menulis. Selama masa hidupnya, tidak kurang dari 70 buku telah ditulis oleh Pak Nas. Salah satu karya beliau yang terkenal adalah “Pokok-Pokok Gerilya”. Karena banyaknya jumlah buku yang ditulis oleh beliau, MURI menganugerahkan penghargaan kepada Jenderal Besar DR. A.H Nasution sebagai jenderal paling produktif dalam menulis buku.

Diorama saat pasukan Cakrabirawa mencoba masuk ke kamar Pak Nas

Penjelasan berlanjut ke ruang kamar tidur Pak Nas. Capt. Suroso menjelaskan saat itu ketika pasukan cakrabirawa masuk ke rumah melalui pintu depan, Pak Nas dan istri sedang terbangun karena ada nyamuk. Nah, saat mendengar suara gaduh, Ibu Nas langsung mengintip dari pintu kamar yang ternyata adalah pasukan cakrabirawa.

Diorama Pak Nas saat ingin menemui Pasukan Cakrabirawa

Saat Pak Nas mencoba menemui cakrabirawa, mereka malah langsung menembaki Pak Nas. Dengan seketika Ibu Nas menutup pintunya.

Pintu kamar Pak Nas dengan  bekas tembakan lima buah peluru

Anak Pak Nas, Ade Irma Suryani yang saat itu masih tidur langsung terbangun karena mendengar suara tembakan. Pak Suroso juga menjelaskan bahwa saat itu Ibu dan kakak Pak Nas baru datang dari Medan, jadi Ade Irma tidur dengan Pak Nas dan Ibu sedangkan kakaknya Yanti tidur dengan nenek dan tantenya. 

Karena tau pasukan cakrabirawa mencari dan ingin membunuh Pak Nas, akhirnya istri Pak Nas menyuruhnya untuk melarikan diri dengan melompat tembok rumah sebelah yang merupakan kedutaan besar Irak (sampai sekarang).

Penggambaran pada saat Pak Nas melarikan diri

Berlanjut ke ruang berikutnya, diruangan ini terdapat penggambaran saat Ibu Nas ambil menggendong Ade Irma yang bercucuran darah karena tertembak pasukan cakrabirawa, Ibu Nas melepas kepergian Pak Nas untuk melarikan diri.

Diorama Ibu Nas saat mencari bantuan untuk menyelamatkan Ade Irma

Setelah Pak Nas pergi, Ibu Nas kembali masuk ke rumah dengan maksud untuk menelfon bantuan, tapi ternyata sambungan telfon sudah diputus dan saat sampai di ruang makan Ibu Nas telah dihadang oleh pasukan cakrabirawa.

Diorama rumah ajudan

Berlanjut ke ruangan terakhir yaitu rumah ajudan. Di ruangan ini terdapat penggambaran saat Lettu Pierre Tendean yang saat itu mengaku sebagai Jenderal Nasution disergap oleh pasukan cakrabirawa.

Selain diorama tempat berlangsungnya peristiwa G30S/PKI di dalam rumah Pak Nas, ada beberapa bagian di rumah Pak Nas yang membuat saya pribadi agak merasa sedih dan miris antara lain

Salah satu pajangan di kamar Pak Nas
Foto saat ulang tahun ade irma ke lima tahun (19 Februari) bersama dengan Lettu Pierre Tendean
Lukisan tiga dimensi yang menggambarkan perjalanan karir Pak Nas (1/2)
Lukisan tiga dimensi yang menggambarkan perjalanan karir Pak Nas (2/2)
Salah satu lukisan 3d Pak Nas bersama istri dan anaknya 😥

Sebagai penutup, sebelum meninggalkan Museum Jenderal Besar A.H Nasution Pak Suroso menegaskan kembali  dan berpesan kepada kami bahwa:

Jangan ragu, jangan bimbang, Ideologi kita final Pancasila. Jangan sampai Pancasila ini diganti kemudian di bayang-bayangi dengan sebuah paham yang kanan saja tidak relevan dengan Indonesia, apalagi yang kiri. Dan bangsa kita sangatlah besar, bangsa kita sangatlah kaya, sangatlah luar biasa. Pulau-pulau, sumber daya manusia, kekayaan alam, suku bangsa dan agama. Dari sekian banyak kekayaan bangsa kita ini kalau tidak diikat dalam satu bingkai yang kuat maka kekayaan itu bukan menjadi sebuah kekayaan tetapi justru akan menjadi sebuah celah-celah disintegrasi bagi kita semua, perpecahan. Oleh karenanya harus diikat dengan ikatan yang kuat. ya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Kita ibaratkan sebuah rumah yang bisa mengayomi, melindungi, menjadi manfaat bagi pemiliknya kalau memiliki tiang yang kokoh. Sama seperti negeri kita akan kokoh melindungi, mengayomi, mensejahterakan kalau punya tiang yang kokoh. Tiangnya apa? Empat pilar yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan pada akhirnya NKRI yang mempersatukan, NKRI harga mati.Capt. (CAJ) Suroso di Museum Jenderal Besar A.H Nasution, 26 September 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s