Review Film: La La Land – Ketika Kekuatan Cinta Bahkan Tak Dapat Menolak Takdir


Tiga hari lagi. Tepatnya tanggal 26 Februari 2017 waktu California (USA), Academy Awards ke 89 atau Oscars 2017 akan berlangsung di Dolby Theatre Hollywood. Acara penghargaan film “terbaik” tahunan ini paling bergengsi dan paling ditunggu setiap tahunnya.  Di postingan kali ini saya bukan akan membahas tentang acara Oscars, tapi tentang salah satu film yang berhasil meraih 14 nominasi yaitu La La Land. La La Land seakan menutup akhir tahun 2016 dengan manis, bukan hanya alur ceritanya yang dramatis tetapi juga lagu – lagu dalam film ini yang menjadi booming dan masuk ke dalam top chart di Spotify dan Joox.

*For Your Information*

La La Land adalah sebuah film bergenre komedi musical ini bercerita tentang perjalanan cinta Mia dan Sebastian di kota berjuluk “City of Stars” a.k.a Los Angeles. Film ini pertama kali ditayangkan di Venice International Film Festival pada tanggal 31 Agustus 2016 dan baru secara resmi dirilis di Amerika pada tanggal 9 Desember 2016. Sedangkan untuk di Indonesia sendiri, La La Land baru bisa disaksikan di bioskop (kesayangan anda) pada tanggal 10 Januari 2017 (lama banget keburu ada nonton streamingnya deh).

Bagaimana filmnya? Mungkin banyak dari kalian yang udah nonton filmnya sekali, dua kali bahkan berkali – kali. Tapi gada salahnya kalo saya cerita ulang disini, mungkin bagi kalian yang belum sempet nonton di bioskop ataupun streaming online. Ok, Here we go 😀 😀 😀

*Review Film Started (ps: Spoiler Alert)*

Mia (Emma Stone) bermimpi ingin menjadi aktris terkenal. Mia sudah mengikuti banyak audisi film tetapi belum ada satupun yang berhasil lolos. Untuk membiayai hidupnya sehari – hari, Mia bekerja sebagai kasir di sebuah kafe. Walaupun tidak banyak adegan yang memperlihatkan kehidupan Mia selain bersama Sebastian, tetapi kita bisa mengetahui bahwa Mia tinggal bersama tiga orang sahabat perempuannya yang sangat mendukung Mia dalam segala hal.

Sebastian (Ryan Gosling) seorang musisi jazz yang memiliki mimpi untuk membuka bar-nya sendiri, dimana didalam bar tersebut mempertunjukkan musik jazz yang original. Sebastian bermain piano dari satu kafe ke kafe lain untuk membiayai hidupnya. Tapi sayangnya, Seb di pecat dari kafe tempatnya bekerja karena permainan pianonya dianggap buruk atau tidak sesuai dengan keinginan pendengar (pengunjung kafe).

mv5botm2odfknmytntfkms00y2ywlwfizmutowy1ogeymju4ntrjxkeyxkfqcgdeqxvyntm3mdayotc-_v1_
Source: IMDB

Seb dan Mia baru pertama kali benar – benar bertemu dan berbicara lama ketika Seb membantu Mia mencari mobilnya yang diparkir entah dimana. Di adegan inilah Seb dan Mia berduet menyanyi dan menari lagu “A Lovely Night” dengan latar belakang pemandangan malam kota Los Angeles (adegan paling fenomenal dari film ini).

Sejak saat itu Seb dan Mia semakin tidak terpisahkan (intinya sih jadian, walaupun gak ada ritual penembakan *classy*) walaupun saat itu Mia masih memiliki pacar, tetapi Mia lebih memilih Sebastian. Bulan berganti bulan hingga akhirnya Mia pindah tinggal di rumah Seb. Keduanya saling menyemangati satu sama lain untuk mewujudkan mimpi mereka masing – masing.

Karena belum menemukan pekerjaan yang tetap dan disisi lain orang tua Mia menginginkan anaknya mendapatkan laki – laki yang sudah mapan, Seb akhirnya menerima tawaran dari Keith (John Legend – berperan sebagai teman lama Seb) untuk menjadi band pengiring (keyboardist) tournya. Sedangkan Mia, akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan berusaha mewujudkan mimpinya dengan mencoba membuat pertunjukan monolog.

Singkat cerita, Seb dan Mia mulai LDRan karena kesibukan masing – masing. Bahkan saat bertemu keduanya malahan berdebat ketika ada kesempatan bertemu, dan saat itulah keduanya memutuskan untuk memberi ruang satu sama lain (break kali yaa maksudnya).

Pertunjukkan monolog perdana Mia akhinya gagal total (penontonnya cuma sedikit) dan Seb hanya datang saat pertunjukkan sudah selesai. Mia benar – benar merasa putus asa dan sedih, akhirnya Mia memutuskan hubungannya dengan Sebastian.

Mia kembali ke rumah orang tuanya. Tetapi Seb malah mendapat telfon yang mengabarkan bahwa Mia mendapatkan undangan untuk audisi lanjutan. Karena hal itu Seb langsung membujuk Mia untuk mengikuti audisi ini untuk yang terakhir kalinya dan Mia menyetujuinya.

mia
Seb dan Mia setelah audisi. Source: screenshoot sendiri waktu nonton 😀

Inilah bagian ending yang paling nyebelin dan paling bikin baper (menurut saya). Selesai dari audisi, Seb dan Mia pergi ke tempat pertama kali mereka duet bareng lagu “A Lovely Night” (cmiiw). Seb seakan punya firasat bahwa di audisi kali ini Mia akan berhasil dan menjadi seorang Aktris terkenal.

Mia        : Where are we?

Seb        : I don’t know

Mia        : What we’re doing?

Seb        : I don’t think we could do anything. Cause when you get this

Mia        : If I get this

Seb        : When you get this, you gotta give everything you’ve got. Everything. It’s your dream.

Mia        : What do you gonna do?

Seb        : I gotta follow my own plan. Stay here and get my own thing.

Seb        : You’re gonna be in Paris. Good jazz there. And you love jazz now, right?

Mia        : Yes

*Hening*

Seb        : I guess we just gonna wait to see

Mia        : I’m always gonna love you

Seb        : I’m always gonna love you, too

*That was my favorite dialogue in this movie, for sure!*

 5 tahun setelah kejadian itu, Mia benar menjadi aktris terkenal, sudah menikah dan memiliki seorang anak. Menikah dengan……… bukan Sebastian (yap ini saatnya nyesek bertubi – tubi). Seolah mengulang kejadian masa lalu, Mia dan suaminya terjebak di kemacetan (sama seperti kejadian pertama saat Mia bertemu Seb). Akhirnya Mia memutuskan untuk mengajak sang suami dinner di restoran sekitar, setelah itu suami Mia mengajaknya ke sebuah bar musik Jazz.

Mia langsung teringat masa lalu ketika melihat logo bar tersebut “Seb♪s” logo yang dibuat Mia untuk bar impian Seb. Benar saja, ketika masuk ke dalam Bar didapati Mia melihat sosok Seb yang sedang memperkenalkan para pemain musiknya. Seb juga menyadari kehadiran Mia hanya berkata “welcome to the Sebs” dan langsung memainkan lagu City of Stars (lagu kenangan Seb dan Mia). Setelah lagu selesai, keduanya hanya saling bertatap dan Mia beranjak pulang, sementara Seb terus memandangi Mia yang berjalan menjauhinya. Tanpa berbicara satu katapun! – Tamat-

*Film Review Ended*

So far, menurut saya La La Land adalah film dengan perpaduan yang pas antara komedi, musikal dan dramanya. Yaa walaupun ending-nya sempet bikin mata perih dan basah (edisi lebay), tapi tetep worth it buat di tonton. Lagu – lagu dalam film ini juga easy listening dan liriknya simpel, gampang di hafal (daftar OST La La Land cek disini). Pantas saja film ini mendapat rating 93% dari Rotten Tomatoes dan 8,5/10 dari IMDB.

Satu pesan moral yang bisa diambil dari film ini menurut saya adalah…

“Cinta memang menguatkan, tetapi cinta tidak sekuat takdir. Cinta tidak bisa menolak takdir. Dimana takdir itu tertulis, disitulah cinta akan mengikuti.”  

Jadi…Penasaran berapa banyak piala Oscars yang bisa dibawa pulang oleh para cast and crew film La La Land dari 14 nominasi yang mereka dapatkan? Jangan lupa tonton The Oscars 2017, Sabtu 26 Februari 2017 jam 05.30 (GMT -8)

Terima kasih sudah berkunjung dan membaca postingan ini, ciao!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s